Sakit mata

14 02 2008

“Lebih baik sakit hati, daripada sakit gigiii inniiii biar tak mengapa ….”, sebaris nada dari lagu dangdut all of the time by #%^!^$!^! (sorry, not a big fan of dangdut), menggambarkan bahwa sakit gigi adalah salah satu penyakit yang paling ganggu. Itu harus saya akui dengan telak, tapi dua hari belakangan ini, I have to add more illness on first row of most annoying illness, dan itu adalah sakit mata.

Yup, dah sejak kamis maren, mata kanan rasanya seperti kena ganjel kerikil di pelipis atas, diobatin dengan Visine sepertinya kurang terlalu membantu, yang ada malah yang sebelah kiri juga ngikut, dan parahnya, selepas Jum’atan malah dua-duanya jadi semerah darah, sampai -sampai pas mo meeting semua pada ngga ada yang berani face-to-face ke saya, takut ketularan kali ya hehehe

Wah ini nggak boleh dibiarkan, pikir saya, dan untungnya nyai cukup sigap langsung cari dokter mata yang prakter setelah office hour, dan ditemukanlah dokter Ayu di RS Meilia Cibubur, prakter dari jam 5 sore sampe 8 malam, wuikss, keburu nggak ya, secara Jum’at dan pastinya macet booo!!!

Alhamdulillah, dengan sedikit nakal pake bahu jalan, bisa dengan sukses ngeber Ipah dari daerah Daan Mogot ke Meilia sekitar jam 6.30 malam dan masih bisa menemui sang ibu dokter ini. Dapat 3 jenis obat, Tarivid dan Hialid yang harus diteteskan ke mata setiap 4 jam sekali dan salep Xitrol yang harus dipakekan ke mata sebelum dan sesudah bangun tidur untuk mengikat obat pada mata, halah, sudah sakitnya ngganggu lha kok obatnya juga ya, ya wes lah … penting sehat dan bisa beraktifitas lagi


Aksi

Information

2 responses

28 02 2008
Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Sakit mata

[…] Read original post at b8189uv blog […]

14 03 2008
widjaja

Hubungan Dokter Pasien forwarded by http://www.arsitek.us http://www.kontraktorku.com http://www.kontraktor.org http://www.projectbuildingconsultant.com ( arsitek perencana gedung kontraktor dan konsultan rumah sakit) call widjaja 0818 0840 7988 021 92858971.Semoga bermanfaat

Hubungan dokter-pasien sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Saat itu yang disebut dokter adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Sumpah Hipokrates merupakan salah satu bentuk hukum yang mengatur hubungan dokter-pasien. Dalam sumpah hipokrates, dokter diingatkan untuk berperilaku baik sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Hukum lainnya adalah kitab undang-undang Hammurabi dimana dalam kitab tersebut seorang dokter harus bertanggung jawab terhadap kerugian pasien yang diakibatkan oleh tindakannya.

Hukum yang mengatur kelalaian yang dibuat seorang professional, termasuk didalamnya tindakan malpraktik kedokteran, semakin berkembang sempurna dengan mengadaptasi hukum dari undang-undang Inggris dan hukum lainnya yang serupa dengan hukum yang terkandung dalam sumpah hipokrates dan kitab undang-undang Hammurabi.

Hubungan dokter-pasien dianggap sebagai sebuah kontrak, walaupun biasanya sebuah kontrak ditujukan terhadap tindakan dari sekelompok orang yang mencari dan menawarkan nasihat dan perawatan / perhatian. Dokter dianggap telah menjanjikan terselenggaranya pelayanan kedokteran yang baik dengan tidak memberikan jaminan apapun mengenai kesembuhan pasien kecuali jika memang dokter tersebut secara sadar menjanjikan sesuatu. Oleh karena itu, pengadilan tidak akan menyalahkan dokter mengenai berhasil atau tidaknya suatu pengobatan. Kontrak tersebut juga menyangkut kewajiban penuh dokter untuk merawat pasien walaupun pasien tersebut tidak mampu membayar jasa dokter.

Penuntutan terhadap kelalaian dokter termasuk didalamnya malpraktik harus memenuhi empat syarat. Pertama harus terjalin adanya hubungan dokter-pasien. Kedua dokter tidak melaksanakan kewajibannya. Ketiga dokter tidak melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar profesi yang ada. Keempat tindakan yang tidak sesuai standar profesi tersebut menyebabkan terjadi kerugian / cedera yang sebetulnya dapat dicegah. Setiap persyaratan diatas harus dapat dibuktikan terjadi oleh pihak penuntut agar dapat memenangkan perkara. Kelalaian yang dimaksud diatas juga berlaku terhadap profesi lainnya.

Hukum yang mengatur dokter atau para penyedia tenaga kesehatan lainnya pada dasarnya sama dengan hukum yang mengatur profesi arsitek, insinyur, dan pengacara. Dalam semua profesi, kewajiban ada setelah terciptanya hubungan professional antara kedua belah pihak. Oleh karena itu, pembuktian adanya hubungan dokter dengan pasien yang mengalami kerugian harus dapat dibuktikan dari setiap tindakan malpraktik.

Menurut hukum dari COBRA, kewajiban dapat timbul akibat adanya hubungan rumah sakit dengan pasien sehingga jika seorang dokter bekerja di rumah sakit tersebut maka dokter dibebankan kewajiban terhadap pasien. Jika seorang dokter terlibat masalah hukum akibat hubungan rumah sakit dengan pasien maka hal tersebut terjadi karena hubungan khusus antara rumah sakit dan dokter.

Diambildari http://www.freewebs.com/forensik_dan_hukum/

wah hubungannya apa ya sama post saya, oh sama-sama bicara kesehatan ya.

btw, thanks ya udah mampir ke blog saya dan salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: