Berani untuk berbeda

22 12 2007

Ibrahim AS, tercatat lahir sebagai putra seorang pembuat patung dewa ditengah kaum jahiliyah yang memilih untuk menyembah Tuhan dalam bentuk patung. Dalam kisah keteladanan “sang para bapak Nabi” tersebut, disebutkan bahwa Ibrahim dengan berani menghancurkan seluruh patung yang ada dan hanya menyisakan satu patung yang paling besar. Yang menarik dari sekelumit kisah tersebut adalah, bahwa Ibrahim muda, berani untuk berbeda, di tengah kekafiran umatnya yang begitu dalam, Ibrahim berani melawan tirani tersebut dengan sebuah langkah yang menurut saya cukup ekstrim.

“Keberbedaan Ibrahim” inilah yang menarik untuk saya kutip.

Ketika dulu masih sekolah, saya pernah berangan-angan dengan teman saya kira-kira besok kalau sudah gedhe pengen hidup seperti apa ya ? waktu itu karena saya masih terpengaruh dengan kehidupan bapak yang seorang militer, saya ngomong “saya pengen jadi tentara ah, kan keren tuh pake seragam, nti biar bisa kenalan sama cewek** cake”, teman saya bilang “saya pengen jadi arsitek, enak kerjanya gampang, bayarannya gedhe”, nah teman saya yang satu lagi bilang “saya pengen punya perusahaan dan jadi konglomerat aja, enak punya banyak orang yang bisa disuruh-suruh”. Sejenak kami semua diam begitu dengar hal tersebut, dan langsung ngewatain teman saya tersebut, soalnya menurut kami waktu itu hal tersebut sangat tidak realistis. Jadi tentara dan arsitek okelah, bisa kami capai dengan kuliah, syukur kalau dapat beasiswa, delele, tapi jadi pengusaha, please deh, kondisi ortu kami sebagai pegawai negeri saat itu (pegawai negeri non korupsi lho ya)  jelas-jelas ndak akan mendukung kami untuk membangun sebuah usaha, belum lagi kemampuan kami dalam hal-hal yang bersifat tetek bengek usaha, seperti dagang, komunikasi, delele, sangat diragukan pada waktu itu.

Tapi, apa yang terjadi kemudian, benar-benar mengejutkan kami, saya sekarang jadi seorang konsultan karena ada masalah dengan kesehatan yang menyebabkan saya gagal jadi tentara. Teman  saya yang satunya, memang bekerja di salah satu developer bangunan sebagai arsitek. Dan, sang “pengusaha”, betul-betul jadi pengusaha, dia membuka banyak gerai minimarket dan usaha property yang lumayan menghasilkan.

Dalam satu buku yang saya baca (ma-af lupa judul dan pengarangnya, pokok ingetnya sampulnya pink hehehehehe), apa yang terjadi adalah, karena teman saya tersebut, memiliki sesuatu yang memang tidak kami miliki, yaitu berani untuk berbeda dan mengambil resiko. Seringkali apa yang terjadi adalah kita terbelenggu oleh pikiran kita sehingga kita merasa in-capable terhadap suatu target yang ingin kita capai, dan walhasil kita mereduksi harapan kita dengan pemikiran apabila gagal (nggak kesampaian) akan tidak kecewa. Menurut buku tersebut, teman saya termasuk dalam sebuah kelompok dimana dia berani untuk mengambil resiko untuk gagal, dan siap untuk menerima hal tersebut dengan lapang dada, teman saya ada dalam sebuah kelompok dimana hanya sedikit orang didalamnya, dan itu mengakibatkan kompetisi yang ada semakin berkurang, sementara ruang dimana dia bisa bergerak adalah lebih lapang, sehingga dia bisa lebih fokus dan lebih mudah baginya untuk mencapai apa yang dia cita-citakan.

Memperpanjang angan-angan (bermimpi)  dan  cita-cita yang tinggi adalah dua hal yang hampir sama, perbedaan yang ada hanyalah kapan kita mulai untuk mencapainya. Siapkah saya untuk berbeda?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: