“Lain syakartum, laadzidanakum, wa-lainkafartum inna adzabi lasyadiid” – “Bersyukurlah dan niscaya AKU akan tambahkan nikmat-KU, dan bila kamu kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya adzab itu sangat pedih” (QS Ibrahim 7)
Pagi ini sebangun tidur saya pengen sarapan yang lain, dengan mancal sepeda keluar kompleks, saya dan bunda mencari gado-gado, ketoprak dan sejenisnya. Persis didepan kompleks memang ada pasar kecil dadakan, dan disana ada tukang jual gado-gado, rasanya lumayan, per porsi Rp 6000,-, pagi itu saya beli 4 bungkus. Dan pagi itu Allah SWT memberi saya sebuah pelajaran betapa uang Rp 24,000,- sangat berarti bagi yang lain.
Persis di samping tukang gado-gado adalah penjual sembako, dagangannya cukup laris, cukup ramai dibeli oleh penduduk asli setempat yang tinggal di luar komplek perumahan kami. Sembari menunggu gado-gado kami dibungkus, saya dan bunda mengamati antrian di penjual sembako, salah satu dialog yang paling saya ingat adalah sebagai berikut.
Pembeli (b): bang, minyak tanahnya masih 4500 ya bang ?
Penjual (j): masih bu, ini masih sisa dagang 2 minggu lalu, belum sempat ngambil lagi, mau berapa liter bu ?
b: satu liter aja deh (sambil memberikan jirigen minyak yang seharusnya cukup untuk 6 liter)
b: kalau jelantik-nya berapa bang ? (jelantik = minyak goreng curah)
j: 14rebu bu (per liter maksudnya)
b: kalau 2000 boleh nggak bang ?
j: wah susah mbaginya bu, 1/4 liter aja deh, jadi cuman 3500
ibu itu lalu melihat selembar 10 ribuan di tangannya sambil berpikir sebentar, lalu mengangguk tanda setuju. Abang penjual sembako, lalu menyiapkan semua keperluan sang ibu, menerima uang tadi dan memberi kembalian kepada sang ibu.
b: terima kasih yang bang
sang ibu tersenyum dan langsung segera menuju tukang sayur yang juga menjajakan dagangannya di sekitar situ juga.
Sejenak saya berpikir, sang ibu tadi pastinya sudah nggak memikirkan lagi nilai-nilai efisiensi, karena hanya membeli 1 liter mitan dan 1/4 liter mingor curah, padahal rumah beliau cukup jauh, dan pastinya minyak-minyak tersebut nggak akan bertahan lama.
Disisi lain, saya juga berfikir, mungkin hanya seperti itulah kemampuan sang ibu. 10 ribu rupiah milik sang ibu, 80%-nya telah habis hanya untuk membeli mitan dan mingor, dan menyisakan 2000 rupiah untuk belanja lauk dan sayur, atau mungkin hanya lauk saja atau sayur saja, dan sangat mungkin sang ibu akan berpikir, bagaimana caranya agar itu bisa bertahan hingga besok pagi.
Saya melihat dua lembar 20 ribuan yang ada di dompet, sejenak saya teringat bagaimana tadi pagi saya sempat mengumpat karena hanya itu yang ada di dompet saya, padahal saya tahu bahwa ini adalah liburan panjang dan seharusnya 2 hari sebelumnya saya mengambil lebih dari ATM untuk membuat saya bisa menikmati liburan 4 hari dirumah tanpa gangguan.
Saya menghela nafas sebentar, dan beristighfar, ya Allah, sungguh telah KAU berikan sebuah pelajaran bagi saya sejenak tadi.










[...] Read original post at b8189uv blog [...]
wah…. emang bener seh mas klo kita mesti sering2 bersyukur…..
dan aku juga pny cerita…
Kemarin aku menunda sholat n ternyata di perjalanan aku nabrak mobil… hu…..
untung gpp,cm sakit tangan ga nyampe jatuh…mobilnya peok dikit tp lanjut terus,ga berhenti,ya udah aku jg jln trs….
Dan kembali lg teringat bhw kita hrs bersyukur setiap saat….
betuuull,,, sering2lah bersyukur,, termasuk untuk hal-hal kecil skalipun,, mudah2an nikmat nya bertambah amieeennn…
Syukur deh
kok gak pernah diapdet lagi ? sibuk yho mas ?
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Gene.
hemmm…. artikelnya menarikkk…..